Archive for March 2016
Cerpen singkat
Kisah Seorang Penjual Koran
Di ufuk timur, matahari belum tampak.
Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun
pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih
lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual Koran,
yang bernama Doni.
Menjelang pukul lima pagi, ia telah
sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Doni?”
tanya Bang Karno. “Biasa saja.”jawab Doni. Bang Karno mengambil
sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Doni untuk langganannya.
Setelah selesai, ia pun berangkat.
Ia mendatangi pelanggan-pelanggan
setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Doni
setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu
dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.
Ketika Doni sedang mengacu sepedanya,
tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah
sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Doni jadi gemetaran. Benda
apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini
sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Doni khawatir benda itu adalah
bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan
tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. “Wah,
apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Doni segera membuka bungkusan
dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat
kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati.
“Milik siapa, ya?” Doni membolak-balik cincin dan kalung yang ada di
dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di
dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Alif. Kasihan sekali Pak Alif ,
rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.
Apa yang diperkirakan Doni itu memamg
benar. Rumah Pak Alif telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri
tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya
terjatuh. Doni dengan segera memberitahukan Pak Alif. Ia menceritakan
apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Alif karena
perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan
itu jatuh ke tangan orang yang jujur. Sebagai ucapan terima kasihnya,
Pak Alif memberikan modal kepada Doni untuk membuka kios di rumahnya.
Kini Doni tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia
cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk
mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Doni digantikan oleh
saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari
sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.
Mentari telah
terbit di ufuk timur. Tapi Faisal masih saja tak beranjak dari tempat tidurnya.
Burung-burung berkicauan menambah indahnya suasana pagi itu. Mentari semakin
meninggi dan terlihat pagi ini sangat cerah.
Faisal adalah
murid kelas VII di SMP bina harapan. Ia tampak malas untuk bangun, padahal hari
ini adalah hari selasa yang artinya ia harus berangkat ke sekolah. Ibunya lekas
membangunkan Faisal karena jam telah menunjukkan jam 6.15.
Tapi ia tampak
malas untuk bangun dan tak mau untuk sekolah lagi. Ibunya membangunkan Faisal
tetapi ia masih saja berbaring di tempat tidur. “Faisal tidak mau sekolah lagi
bu,” jawab Faisal sambil menggeliat.
Ibunya bingung
dengan sikap Faisal, padalah ia adalah anak rajin dan pandai di sekolah. “Kalau
Faisal tidak sekolah, besuk mau jadi apa? Apa tidak kasihan dengan ibu?”, tanya
ibunya. “Tapi pendidikan saat ini sudah rusak bu, hanya orang-orang kaya yang
mendapat pelayanan baik dari sekolah, sedangkan orang-orang miskin seperti kita
sering dianggap bodoh dan nakal. Beasiswa juga hanya diberikan pada anak-anak
pandai saja, lantas dimana tugas pendidikan untuk merubah sikap dan perilaku
menjadi lebih baik bu? Akibat biaya pendidikan yang mahal sekarang ini, banyak
pejabat yang korupsi dan akhirnya akan melahirkan koruptor-koruptor baru. Jadi
apa gunanya Faisal sekolah lagi bu?”, bantah Faisal.
“Jadi Faisal
prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini? Lantas apa yang ingin Faisal
lakukan untuk mengubahnya?”, Tanya ibu. “Ya Faisal ingin mengubah sistem
pendidikan di negara ini bu”. “Lantas bagaimana cara Faisal mewujudkan
cita-cita tersebut?”, Ibu kembali bertanya. “Ya dengan sekolah yang baik bu,”
jawab Faisal. “Nah itu Faisal tau. Sekarang lekas mandi dan berangkat ke
sekolah ya nak”.
Akhirnya Faisal
mau berangkat ke sekolah. Ibunya pun merasa lega anaknya mau berangkat
kesekolah lagi. Beberapa menit kemudian Faisal sudah siap berangkat ke sekolah
dan berpamitan kepada ibunya.
Suasana Kebun Raya Bogor
dipenuhi dengan pengunjung. Laki-laki, perempuan, tua maupun muda semuanya ada
disana. Saat itu adalah hari libur panjang sekolah sehingga banyak pengunjung
yang pergi liburan. Mereka ingin menikmati suasana malam dan menghilangkan
kejenuhan.
Seorang anak kecil tiba-tiba datang.
Dengan pakaian sederhana, ia menjajakan tikar dari plastik kepada para
pengunjung ke pengunjung lain, ia terus menawarkan tikarnya. “Pak, mau sewa
tikar?”katanya pada Pak Umar. “Berapa harga sewa satu lembar tikarnya?”tanya
Pak Umar. “Lima ribu rupiah, Pak!”jawabnya dengan suara lembut. “Bagaimana
kalau Bapak ambil tiga puluh ribu rupiah?”tanya Pak Umar lagi. Gadis itu diam
sejenak. Kemudian ia pun berkata,”Baiklah kalau begitu. Silahkan pilih, Pak!”
Pak Umar memilih tikar plastik
yang akana disewanya. Dalam hati Pak Umar ada rasa tak tega terhadap gadis itu.
Gadis berusia delapan tahun harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. “Kamu
sekolah?”tanya Pak Umar. “Sekolah, Pak! Saya kelas empat SD. “jawabnya.”Mengapa
kamu menyewakan tikar plastik ini?”tanya Pak Umar lagi. “Saya harus membantu
ibu saya. “jawab gadis itu. “Kemana ayahmu?”Pak Umar bertanya lagi. “Bapak
telah lama meninggal dunia. Untuk itu, saya harus membantu ibu untuk mencari
uang,”jawab gadis itu pelan. Mendengar cerita gadis tersebut, Pak Umar merasa
terharu.
Pak Umar merasa kasihan terhadap
anak tersebut. Diambilnya beberapa lembar uang dua puluh ribuan lalu
diberikannya kepada gadis kecil itu. “Pak maaf, saya tidak boleh menerima uang
jika tidak bekerja, “katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Mengapa?”tanya Pak Umar heran. “Kata ibu, saya boleh menerima uang kalau
memamg hasil bekerja. Saya tidak boleh meminta belas kasihan dari orang.
“Mendengar perkataan gadis itu, Pak Umar makin terharu. Ia tahu kalau ibu gadis
kecil itu seorang yang berbudi luhur. “Begini saja, kalau memang harus bekerja,
sekarang bantu Bapak beserta keluarga. Tolong kamu bawakan rantang ini. Kita
akan makan bersama di bawah pohon yang rindang itu!” kata Pak Umar ramah. Pak
Umar dan keluarga menuju ke bawah pohon yang rindang tersebut. Mereka pun
menggelar tikar plastik yang baru saja disewanya. Gadis kecil itu pun diajak
untuk makan bersama




