Cerpen singkat 





Kisah Seorang Penjual Koran
Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual Koran, yang bernama Doni.
Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Doni?” tanya Bang Karno. “Biasa saja.”jawab Doni. Bang Karno mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Doni untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.
Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Doni setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.
Ketika Doni sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Doni jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Doni khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. “Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Doni segera membuka bungkusan dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa, ya?” Doni membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Alif. Kasihan sekali Pak Alif , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.
Apa yang diperkirakan Doni itu memamg benar. Rumah Pak Alif telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Doni dengan segera memberitahukan Pak Alif. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Alif karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. Sebagai ucapan terima kasihnya, Pak Alif memberikan modal kepada Doni untuk membuka kios di rumahnya. Kini Doni tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Doni digantikan oleh saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.

 “AYO BERANGKAT SEKOLAH” 

      Mentari telah terbit di ufuk timur. Tapi Faisal masih saja tak beranjak dari tempat tidurnya. Burung-burung berkicauan menambah indahnya suasana pagi itu. Mentari semakin meninggi dan terlihat pagi ini sangat cerah.
Faisal adalah murid kelas VII di SMP bina harapan. Ia tampak malas untuk bangun, padahal hari ini adalah hari selasa yang artinya ia harus berangkat ke sekolah. Ibunya lekas membangunkan Faisal karena jam telah menunjukkan jam 6.15.
Tapi ia tampak malas untuk bangun dan tak mau untuk sekolah lagi. Ibunya membangunkan Faisal tetapi ia masih saja berbaring di tempat tidur. “Faisal tidak mau sekolah lagi bu,” jawab Faisal sambil menggeliat.
Ibunya bingung dengan sikap Faisal, padalah ia adalah anak rajin dan pandai di sekolah. “Kalau Faisal tidak sekolah, besuk mau jadi apa? Apa tidak kasihan dengan ibu?”, tanya ibunya. “Tapi pendidikan saat ini sudah rusak bu, hanya orang-orang kaya yang mendapat pelayanan baik dari sekolah, sedangkan orang-orang miskin seperti kita sering dianggap bodoh dan nakal. Beasiswa juga hanya diberikan pada anak-anak pandai saja, lantas dimana tugas pendidikan untuk merubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik bu? Akibat biaya pendidikan yang mahal sekarang ini, banyak pejabat yang korupsi dan akhirnya akan melahirkan koruptor-koruptor baru. Jadi apa gunanya Faisal sekolah lagi bu?”, bantah Faisal.
“Jadi Faisal prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini? Lantas apa yang ingin Faisal lakukan untuk mengubahnya?”, Tanya ibu. “Ya Faisal ingin mengubah sistem pendidikan di negara ini bu”. “Lantas bagaimana cara Faisal mewujudkan cita-cita tersebut?”, Ibu kembali bertanya. “Ya dengan sekolah yang baik bu,” jawab Faisal. “Nah itu Faisal tau. Sekarang lekas mandi dan berangkat ke sekolah ya nak”.
Akhirnya Faisal mau berangkat ke sekolah. Ibunya pun merasa lega anaknya mau berangkat kesekolah lagi. Beberapa menit kemudian Faisal sudah siap berangkat ke sekolah dan berpamitan kepada ibunya. 


Gadis Penjaja Tikar


Suasana Kebun Raya Bogor dipenuhi dengan pengunjung. Laki-laki, perempuan, tua maupun muda semuanya ada disana. Saat itu adalah hari libur panjang sekolah sehingga banyak pengunjung yang pergi liburan. Mereka ingin menikmati suasana malam dan menghilangkan kejenuhan.
Seorang anak kecil tiba-tiba datang. Dengan pakaian sederhana, ia menjajakan tikar dari plastik kepada para pengunjung ke pengunjung lain, ia terus menawarkan tikarnya. “Pak, mau sewa tikar?”katanya pada Pak Umar. “Berapa harga sewa satu lembar tikarnya?”tanya Pak Umar. “Lima ribu rupiah, Pak!”jawabnya dengan suara lembut. “Bagaimana kalau Bapak ambil tiga puluh ribu rupiah?”tanya Pak Umar lagi. Gadis itu diam sejenak. Kemudian ia pun berkata,”Baiklah kalau begitu. Silahkan pilih, Pak!”
Pak Umar memilih tikar plastik yang akana disewanya. Dalam hati Pak Umar ada rasa tak tega terhadap gadis itu. Gadis berusia delapan tahun harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. “Kamu sekolah?”tanya Pak Umar. “Sekolah, Pak! Saya kelas empat SD. “jawabnya.”Mengapa kamu menyewakan tikar plastik ini?”tanya Pak Umar lagi. “Saya harus membantu ibu saya. “jawab gadis itu. “Kemana ayahmu?”Pak Umar bertanya lagi. “Bapak telah lama meninggal dunia. Untuk itu, saya harus membantu ibu untuk mencari uang,”jawab gadis itu pelan. Mendengar cerita gadis tersebut, Pak Umar merasa terharu.
Pak Umar merasa kasihan terhadap anak tersebut. Diambilnya beberapa lembar uang dua puluh ribuan lalu diberikannya kepada gadis kecil itu. “Pak maaf, saya tidak boleh menerima uang jika tidak bekerja, “katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Mengapa?”tanya Pak Umar heran. “Kata ibu, saya boleh menerima uang kalau memamg hasil bekerja. Saya tidak boleh meminta belas kasihan dari orang. “Mendengar perkataan gadis itu, Pak Umar makin terharu. Ia tahu kalau ibu gadis kecil itu seorang yang berbudi luhur. “Begini saja, kalau memang harus bekerja, sekarang bantu Bapak beserta keluarga. Tolong kamu bawakan rantang ini. Kita akan makan bersama di bawah pohon yang rindang itu!” kata Pak Umar ramah. Pak Umar dan keluarga menuju ke bawah pohon yang rindang tersebut. Mereka pun menggelar tikar plastik yang baru saja disewanya. Gadis kecil itu pun diajak untuk makan bersama







 

CERPEN SINGKAT

Posted by : kikycomcell 1 Comment
Alhamdulillahirobil 'alamin SMP Negeri 2 Leuwimunding telah berhasil mempertahankan piala bergilir SMK Karnas Sindangwangi dalam kejuaraan bola voly antar SMP/MTs se Kabupaten Majalengka

Posted by : kikycomcell 0 Comments


SAJARAH DESA LAME
………………….. , mangka tersebutlah LAME dina kawitan pertengahan abad ka 16 aya hiji wewengkon panyicingan nu nyicingan anu aya di tepian Walungan Ciwaringin. Sanggem - sanggem Lame sabot eta tacan hartina wasta hiji Desa,nanging Lame nyaeta hiji wewengkon anu atos dianggo minangka panyicingan sekelompok Jalmi anu hirup sareng anu mangrupa hiji Balarea anu di Pingpin ku Hiji jalma anu di Tuakan. Sanaos atos aya Jalmi anu dianggap Sesepuh / di Tuakan nanging tacan tiasa disebutkeun hiji Desa. Margi jabi sanggem “DESA” anyar ditepungan dina kirang langkung Pertengahan Abad ka 19.Sarat sanes kanggo tiasa di sebat DESA tacan nyekapkeun margi anyar aya jalmi anu di Tuakan atawa Sesepuh oge tacan aya Pajabat sarta Pembantunya sepertos ayeuna Kitu kaayaanana Pakakas Desa janten Pamarentahan na tacan aya. Ku margi eta Lame nyaeta ngan mangrupa Wewengkon Tempat Sekelompok Jalmi hirup bermasyarakat.
Naha tempat tadi di sebat LAME ?. Margi di keur-keur Lingkungan Jalmi hirup bermasyarakat tadi aya hiji Tangkal Ageung sarta dianggap Kramat di mana maranehanana mengadu sarta memohon dina Tangkal kasebat,ku kituna karenannya lamun maranehanana ditanya diluar wewengkon maranehanana bade ngawalon “ Abdi Asalna Ti Wewengkon Lame “ Margi maranehanana aya handap Tangkal Lame.
Wewengkon anu di sebat “ LAME “ tadi kaasup diatas taneuh kepunyaan bapa Buyut TARAJUTISNA anu sabot eta dianggap jalmi anu kiat sarta dina wktu eta Anjeunna cicing disebelah kulon wewengkon Lame .
Sanaos kitu kanggo Jalmi-jalmi wewengkon Lame henteu nganggap yen Buyut Tarajutisna eta minangka pupuhu maranehanana. Buktos na sabot midamel jalan antawis Prapatan Majalengka Jalmi-jalmi wewengkon Lame ngabahula henteu mentaati ka parentah Buyut Tarajutisna kanggo “ Jiwa atawa damel paksa “ eta. Malih maranehanana mending pindah tempat tinggal ka wewengkon sisi walungan Cikadongdong.
Minangka gagantina kanggo padamel midamel jalan kasebat,Kanjeng Dalem Majalengka anu sabot eta di jabat ku R. T. DENDA NAGARA antawis Warsih 1819 s/d 1848 neda ka Sultan Ciebon kanggo ngadatangkeun Budak Belian ti wewengkon Jawa anu di tande di palebah kidul wewengkon Lame ku kituna ahirna wewengkon wewengkon eta disebut “PAMIJAHAN” anu ayeuna robih barobah kaayaan PAMIJEN. Alatan damel paksa anu abot seueur Jalmi anu udur sarta nilar sarta dimakamkeun di Pamijahan dugi ngajajar caos kalawan tawis-tawis ( Maesan ) anu dugi ayeuna dawam disebut Astana Budak,anu tempatna atawa pajaratan na didepan wangunan Buyut WARIYEM BAHUDENDA.

Kanggo nyegah lobana tiwasna para padamel ,diteang na Ubar anu aya disekitar pembuatan jalan kasebat mangka terdapatlah ubar anu ampuh yaktos didamel na ramuan Inuman ti Kulit Tangkal Lame anu aya dipinggir jalan anu kanggo didamel eta.
Sakumaha tadi disebatkeun yen Jalmi-jalmi wewengkon lame eta ngabahula henteu tumut terhdap Buyut Tarajutisna mangka ahirna wewengkon eta teu aya sesepuh atawa pupuhu ku kituna kaayaan barobah kaayaan kacow. Henteu lami saterusna Kanjeng Dalem . A. A. KARTADININGRAT anu dina wanci eta mangkon Kalungguhan di Warsih 1848 s/d 1857 mendapat sorotan ti saluhureunana,saterusna memohonlah Ka Sultan Cirebon supados dibere Saurang Pamingpin di wewengkon kasebat anu sanggem nungkulan bancang pakewuh tadi.
Sultan Cirebon ngirim saurang Soldadu Pilihan,Soldadu Pinilih Kiat sarta Sakti Mandraguna oge wijaksana yaktos namina “ NISAJAYA “ anu asalna ti Waru Gede Cirebon. Margi kesaktian sarta linuhung luhur mangka kadatanganana dipapag kalawan sae sarta caos harepan sarta kapercayaan. Anjeunna di tempatkan anu mimiti yaktos ditepi walungan Cikadongdong palebah kidul jalan desa anu ayeuna.
Sanggeus Nisajaya cicing lami ditu Berpikirlah Anjeunna kanggo mindahkeun Jalmi-jalmi anu aya ditepi walungan Cikadongdong ka Sisi jalan anu kanggo didamel. Diajak na Jalmi-jalmi eta bertempat kantun disekitar Tangkal Ageung deui Kramat sarta ti Tangkal itupula tiasa mikeun Ubar ka Jalmi-jalmi anu udur. Kepindahan lumangsung 2 ( dua ) Jumplukan beda pamadegan,hiji pihak hoyong cicing sarta dilain pihak hoyong pindah. tapi sanaos kitu berkat Kesaktian sarta Kebijaksanaan Nisajaya ahirna maranehanana tumut,taat sarta nurutkeun kanggo pindah bertempat cicing di kira-kira Tangkal Ageung sarta Kramat eta.
handap Tangkal anu ageung eta dibuatnyalah lapang anu lega atawa Alun
- alun anu dianggap na dina wanci eta kanggo ngariung sarta disebelah kidul Tangkal anu Ageung eta didamel na deui hiji wangunan anu dianggap na ku maranehanana dina wanci eta minangka tempat Badanten,saterusna disebelah kulon Tangkal anu Ageung didamel na deui hiji wangunan kanggo bersemedi atawa beribadat.
Sanggeus karasaeun yen Jalmi-jalmi eta Tumut sarta Taan ka saniskanten parentah na,mangka dina hiji Permusyawaratan dipegatkeun yen tempat anu maranehanana diami eta di sebat “ DESA LAME “ margi maranehanana ngalindung disekitar Tangkal anu ageung tadi sarta ditetepkeun deui yen minangka Pamingpin atawa Kuwu yaktos Bapa NISAJAYA .
“ KUWU ANU KAHIJI “adalah Bapa NISA JAYA anu ayeuna kakoncara kalawan sebutan BUYUT NAISA,anjeunna marentah minangka kuwu saprak warsih 1849 s/d 1850.
Margi hiji hal,BUYUT NISA JAYA henteu lami mangkon kalungguhan minangka Kuwu,tapi sanaos kitu komarana angger ageung sarta angger deui dipatuhi ku rahayat sakurilingna,perkawis ieu dibuktikeun dina giliran kanggo diuk minangka kalungguhan Kuwu selanjutnya cekap kalawan nunjuk sarta mengangkat putra na anu namina BUYUT GEDE,Anjeunna marentah minangka Kuwu saprak warsih 1850 s/d 1851.
Buyut Gedepun henteu lami marentah minangka kuwu,mangka ditunjuklah kakanya Buyut Gede anu namina BUYUT WAIRAN kanggo mangkon kalungguhan minangka kuwu,anjeunna marentah saprak warsih 1851 s/d 1852.
Buyut Wairan Henteu lami marentah minangka Kuwu margi meningal dunya,mangka ditunjuk na deui minangka gantina saurang Incu Buyut Gede anu namina BUYUT DOPANG ,Anjeunna marentah minangka kuwu saprak warsih 1852 s/d 1862.
salila nyekel kalungguhan kuwu Anjeunna tiasa merintis pangwangunan -pangwangunan anu diperlukeun kanggo nyumponan kaperluan balarea,sanaos dina wanci eta carana basajan keneh sepertos pembuatan saluran-saluran cai sarta tangkal Lame digantian ku tangkal Beringin.
Pengaruh Nasionalisme pada waktu itu sudah mulai ada, hal ini akibat Perang “ DIPONEGORO “ sehingga karenanya Kanjeng Dalem R.A BAHU DENDA yang memerintah pada tahun 1857 s/d 1863 menjadikan seorang Kuwu Baru dengan menetapkan putranya yang bernama “ SINGADIWANGSA “ sebagai kuwu, selama pemerintahan yang dijabatnya sejak tahun 1863 s/d 1902 . Singadiwangsa berhasil membuat jembatan “ Cikadongdong “.
Kemudian Singadiwangsa meninggal dunia maka terjadilah pengangkatan kuwu dengan melalui pilihan, yang pada waktu itu Kuwu dipilih langsung oleh rakyat dengan berkelompok-kelompok , rakyat berada di belakang calon kuwu pilihannya. Maka terpilihlah putra Buyut Singadiwangsa yang bernama “ ARGANATA “ Sebagai kuwu dan beliau memerintah sejak tahun 1902 s/d 1920 dan Beliau berhasil membangun Lumbung Desa.
Dengan sistim pilihan tersebut tadi, mengakibatkan perselisihan paham dan pendapat sehinga timbullah adanya oposisi yang dilakukan oleh kelompok yang tidak berhasil pilihannya. Maka oleh karena itulah jatuhnya pemerintahan Arganata.
Pengetahuan dan tata laksana pemerintahan makin maju, maka untuk mengganti Arganata adalah Kanjeng Dalem R . A . A S ASRABAHU Pada Tahun 1902 s/d 1922 , mengadakan sistim Pemilihan Kuwu itu dengan mengunaka sebuah Paku maka terpilihlah “ Bapak DURAHMAN “ sebagai Kuwu sejak tahun 1920 s/d 1926. Pemerintahan desa yang dipegang oleh Bapak Durahman berhasil mengembalikan lagi sejarah yaitu menanam Pohon Lame dan ditambah Pohon Beringin dan Pohon Karoya ditengah Alun-alun . Seperti dijaman Bapak Arganata Bapak Durahman selalu dimta-matai oleh pihak Oposisi, sedangkan Kanjeng Dalem R . A . A Sasrabahu pada waktu itu sudah diganti oleh Kanjeng Dalem R . M . A . A SURYATANUDIBRATA.
Ku margi eta Bapa Durahman eureun ti kalungguhan minangka Kuwu,mangka diayakeun pemilihan deui sarta terpilihlah “ Bapa JAGAKARIA “ Minangka Kuwu,perkawis inipun salila Bapa Jagakaria Nyekel kalungguhan minangka Kuwu henteu lesot ti intaian jumplukan Oposisi,teror pitnah oge dipigawe ku manehna,kelemahan sarta kalepatan Kuwu sok diteang na dugi ahirna dina warsih 1932 Bapa Jagakaria eureun barobah kaayaan Kuwu. Salila marentah Anjeunna ngagentos Pepelakan Tangkal Lame anu ditanam di Alun-alun ku Tangkal Beringin.
Sanggeus Bapa Jagakaria eureun mangka diayakeun pilihan deui,sarta terpilihlah Kuwu Anyar Namina “ Bapa ABBAS “ Anjeunna marentah saprak warsih 1932 s.d 1939 anu dina wanci Pamarentah jajahan midamel bendungan Dam CIWARINGIN,suasana keeadaan di Desa angger sepertos anu kantos dipigawe dina mangsa tiheula na,yen saban jalmi anu barobah kaayaan Kuwu henteu lesot ti fitnahan-fitnahan Oposisi,anu ngabalukarkeun Bapa ABAS ieu kalibet korban fitnah sarta eureun Bapa Abas ti kalungguhan Kuwunya . Mangka diayakeun pilihan deui,sarta terpilihlah “ Bapa ANAM “,anjeunna marentah saprak warsih 1939 s.d 1945.
Perang Dunya ka II nyebar ka India Belanda,datanglah pangjajah anyar Bangsa Jepang,rahayat Desa Lame dina wanci eta diwajibkeun kanggo milampah damel paksa kalawan alesan “ BAGENTOS “ dina raraga pembuatan Lapang Hawa di Buntu,anu ayeuna dipikawanoh kalawan wasta Lapang Hawa S. SUKANI,bagentos sanes ngan ka Buntu wae tapi oge ka BAYAH di wewengkon BANTEN.
Sanaos Pamarentah Jajahan digantian,tapi suasana Pamarentahan di desa teras keneh dikeputan ku silih fitnah-memfitnah ti pihak oposisi,ahirna dina warsih 1945 bapa ANAM eureun ti jabatanna,henteu lami deui diayakeun pemelihan mangka terpilihlah “ Bapa H . SIRAD ” minangka Kuwu ,anjeunna nyekel kalungguhan minangka Kuwu saprak warsih 1945 s.d 1962.
Dina sajarah Kuwu di Desa Lame beliaulah saurang Kuwu anu teu aya kaitan kalawan getih BUYUT NISAJAYA. tapi sanaos kitu Pamarentahan Desa dicepeng ku Bapa H. Sirad,terjadilah revolusi nuju Nagara Indonesia Merdika,lantaran eta Pamarentahan di Desa terpengaruh ku kaayaan,bancang pakewuh lumangsung ditu dieu . Sabot eta Di Desa Lame mmenjadi pikeuneun arena perang antawis Gerilyawan kalawan Belanda,TNI kalawan DI/TII ku kituna balarea Desa Lame kalolobaan mengungsi kanggo nyalametkeun diri ,kaayaan perekonomian barobah kaayaan lemah korban jiwa henteu tiasa di
hindari deui,Penggarongan anu dipigawe ku Gerombolan DI/TII sok lumangsung saban wengi ku kituna kaayaan Desa Lame dina wanci eta barobah kaayaan kacow balau.
Salila Bapa H. Sirad menadi Kuwu dina kasempetan na tiasa deui ngawangun sarana kaperluan balarea sepertos,Ngawangun Bendungan Dam Jatem Di Walungan Cikadongdong,Cenik gang
-cenik gang minangka hubungan anteur blok,utamana tembusan jalan Desa Nanggerang anu dibere wasta Gang C. O. V sarta pembuatan gang -gang lianna.Margi getih fitnah - memfitnah atos membudaya dipihak Oposisi anu henteu mikawanoh kaayaan sarta kaayaan pamarentahan,mangka dina warsih 1962 Bapa H. Sirad barobah kaayaan korban fitnah deui mangka eureun ti jabatanna.
Henteu lami saterusna dina warsih 1962 eta oge diayakeun pilihan kuwu deui,sarta terpilihlah “ Bapa OMO WIHATMAH landian SARTIJAH “ Minangka Kuwu anu ngagaduhan turunan ti kulawargi ageung Bapa Buyut Nisajaya . Salila Jabatanna Anjeunna usaha merintis saniskanten pangwangunan anu diperlu pan,ku kituna Desa Lame robih beungeut,sanaos waktuna relatip singget antawis sanes anjeunna merumajakeun Tangkal Beringin di Alun - alun,Pembuatan Sakola Dasar tilu Lokal,Pemugaran bale desa ,pelebaran Jalan - jalan sarta sanes sajabana . Dina warsih 1965 terjadilah G . 30 S / PKI mangka nyaeta Bapa Omo Wihatma barobah kaayaan korban fitnah deui ku kituna eureun ti jabatanna tanpa serat kaputusan. Kanggo eta pisan ditetepkeun ku pamarentah minangka kretaker yaktos Sersan CECE al SOMA ti KODIM Majalengka anjeunna marentah saprak warsih 1965 s/d 1967.
Ping 17 Nopember 1967 diayakeun pemilihan Hulu Desa sarta terpilihlah “ Bapa ENI SUWARNA ” minangka Kuwu atawa Hulu Desa sarta Kuwu inipun turunan keneh Buyut Wairan . Salila mangkon jabatanna anjeunna teras - menerus ngawangun sarana Fisik sarta Non Fisik saban warsih na margi dina wanci eta kitu kaayaanana REPELITA mimiti warsih 1968/1969. Damar I sarta Damar II atos dilaksanakeun kalawan buktos Merehab bale desa,merehab Masjid Jammi Desa ,pengaspalan jalan nuju ka Desa Parakan sarta anu lianna .
Dina Warsih 1978 henteu tinggaleun deui Desa Lame ngiring dina pasanggiri Desa tingkat Desa Swakarya se-Kabupaten Majalengka sarta barobah kaayaan jawara I TK. Kabupaten. Henteu lami saterusna ti Pamarentah mimiti diberlakukannya Ulem-ulem no. 5 warsih 1979 ngeunaan Pamarentahan Desa diantarana yen mangsa kalungguhan Hulu Desa lilana 8 warsih saprak mimiti pengangkatan Hulu Desa sarta Anjeunna eureun ti jabatanna dina warsih 1980 .
dina keneh Warsih eta oge diayakeun pemilihan Hulu Desa sarta terpilihlah “Bapak ATENG MUKTAR “ Barobah kaayaan Hulu Desa. Salila Anjeunna nyekel kalungguhan atos junun milampah Pangwangunan di antarana ngawangun 2 Mushola,jembatan sasak Jangkung,jembatan Cidongke anu nyambungkeun Blok Rebo belah wetan sarta Blok Rebo palebah Kulon. Dina warsih 1984 Anjeunna mendapat balai yaktos udur.
Dina wanci eta Bapa R. E. DJAELANI . SH salaku Bupati Hulu Wewengkon TK. II Majalengka mikeun Cuti Udur Ka Bapa Ateng Muktar salaku Hulu Desa Lame sarta mengangkat “ Bapa JALIL KOMARUDIN “ kalungguhan Sekretaris Desa minangka Pajabat Hulu Desa Lame dina ping 21 Maret 1985.
Dina wanci anu relatif singget dina ping 18 Agustus 1985 ngadegkeun Pengajian Umum Al-Hidayah bertempat di Masjid Jami Desa Lame,mengangkat Wangwangan Balarea Desa Lame dimata Pamarentah kalawan junun na Partei GOLKAR dina Pemilu 1987 mendapat kirang langkung 84 % soanten dina mangsa Orde Anyar,Listrik Lebet Desa ( LMD ),pembuatan Kuta Pangwates di Blok Salasa antawis Desa Lame kalawan Desa Parakan,Perehaban bale desa sarta Pangwangunan Jembatan Taledo .
Sanggeus rengse na mangsa Pemilu 1987 Pamarentah nyabut Pajabat Hulu Desa sarta henteu lami saterusna dina ping ; 10 Oktober 1988 Wargi A . JALIL KOMARUDIN eureun kalawan ajen ti jabatanna minangka Pajabat Hulu Desa sarta dibikeun Serat Kaputusan na .
Dina Ping 10 Oktober 1988 diayakeun pemilihan Hulu Desa mangka terpilihlah “ Bapa Rd . MAHMUD AZMI “ minangka Hulu Desa Lame . Salila Anjeunna Mangkon jabatann atos junun ngawangun nyaeta Pengaspalan jalan di gang-gang di lima blok,merehab jembatan disebelah kulon Bapa Solihin,merehab jembatan di Blok Senen “ Jembatan Pak Cawis “ ,Penyenderan saluran cai di serang Jati.
Dimargikeun mangsa kalungguhan Kades lilana 8 warsih saprak pengangkatan Kades kahalangan ku Pemilu 1997 mangka Anjeunna eureun ti jabatanna dina ping 30 Maret 1998. Dina Ping 17 September 1998 diayakeun pemilihan Kuwu mangka terpilihlah “ Bapa . JALIL KOMARUDIN ” kalawan mengerah pan pupuhu-pupuhu non pormil di balarea kanggo digawe babarengan anu sae kalawan pamarentah Desa sarta Lembaga - lembaga Desa,mangka tiasa ngawangun sarta ngarobah jamten Desa Lame .


sejarah desa lame bahasa sunda

Posted by : kikycomcell 0 Comments


SEJARAH DESA LAME
  
………………….. ,  maka tersebutlah LAME pada kira-kira pertengahan abad ke 16 yaitu suatu daerah kediaman penduduk yang berada di tepian Sungai Ciwaringin. Kata – kata Lame ketika itu belum berarti nama suatu Desa, tetapi Lame adalah suatu daerah yang telah dipakai sebagai kediaman sekelompok Manusia  yang hidup bersama yang merupakan suatu Masyarakat yang di Pimpin oleh Seseorang yang di Tuakan. Sekalipun sudah ada Orang yang dianggap Sesepuh / di Tuakan tetapi belum bisa dikatakan sebuah Desa. Sebab selain kata “DESA” baru dijumpai pada kurang lebih Pertengahan Abad ke 19.Syarat lain untuk bisa di sebut DESA belum mencukupi sebab baru ada orang yang di Tuakan atau Sesepuh juga belum ada Pejabat dan Pembantunya seperti sekarang Adanya Perangkat Desa jadi Pemerintahannya belum ada. Oleh karena itu Lame adalah hanya merupakan Daerah Tempat Sekelompok Manusia hidup bermasyarakat.
          Mengapa tempat tadi di sebut LAME ?. Sebab di tengah-tengah Lingkungan Manusia hidup bermasyarakat tadi terdapat sebuah Pohon Besar dan dianggap Kramat dimana mereka mengadu dan memohon pada Pohon tersebut, sehingga karenannya apabila mereka ditanya diluar daerah mereka akan menjawab “ Saya Berasal Dari Daerah Lame “ Karena mereka berada di bawah Pohon Lame.
          Daerah yang di sebut “ LAME “ tadi termasuk diatas tanah kepunyaan bapak Buyut TARAJUTISNA yang ketika itu dianggap orang yang kuat dan pada wktu itu Beliau diam disebelah barat daerah Lame .
        Walaupun demikian bagi Orang-orang daerah Lame tidak menganggap bahwa Buyut Tarajutisna itu sebagai pimpinan mereka. Buktinya ketika membuat jalan antara Prapatan – Majalengka Orang-orang daerah Lame membangkang tidak mentaati terhadap perintah Buyut Tarajutisna untuk “ Jiwa atau kerja paksa “ itu. Malah mereka lebih baik berpindah tempat tinggal ke daerah pinggir sungai Cikadongdong.
         Sebagai penggantinya untuk pekerja membuat jalan tersebut, Kanjeng Dalem Majalengka yang ketika itu di jabat oleh R. T. DENDA NEGARA antara Tahun 1819 s/d 1848 meminta kepada Sultan Ciebon untuk mendatangkan Budak Belian dari daerah Jawa yang di tampung di sebelah selatan daerah Lame sehingga akhirnya daerah daerah itu disebut “PAMIJAHAN” yang sekarang berubah menjadi PAMIJEN. Akibat kerja paksa yang berat banyak Orang yang sakit dan mati dan dimakamkan di Pamijahan sampai berderet penuh dengan ciri-ciri ( Maesan ) yang sampai sekarang biasa disebut Makam Budak, yang letaknya atau kuburannya didepan bangunan Buyut WARIYEM BAHUDENDA.
         Untuk mencegah banyaknya kematian para pekerja , dicarinya Obat yang ada disekitar pembuatan jalan tersebut maka terdapatlah obat yang mujarab yaitu dibuatnya ramuan Minuman dari  Kulit Pohon Lame yang terdapat dipinggir jalan yang sedang dibuat itu.
         Sebagaimana tadi disebutkan bahwa Orang-orang daerah lame itu membangkang tidak patuh terhdap Buyut Tarajutisna maka akhirnya daerah itu tidak ada sesepuh atau pimpinan sehingga keadaan menjadi kacau. Tidak lama kemudian Kanjeng Dalem  .     A. A. KARTADININGRAT  yang pada waktu itu memangku Jabatan di Tahun 1848 s/d 1857 mendapat sorotan dari atasannya,
kemudian memohonlah Kepada Sultan Cirebon supaya diberi Seorang Pemimpin di daerah tersebut yang mampu mengatasi kekacauan tadi.
        Sultan Cirebon mengirim seorang Prajurit Pilihan, Prajurit Pinilih Kuat dan Sakti Mandraguna juga bijaksana yaitu bernama  “ NISAJAYA “ yang berasal dari Waru Gede Cirebon. Karena kesaktian dan berbudi luhur maka kedatangannya disambut dengan baik dan penuh harapan serta kepercayaan. Beliau di tempatkan yang pertama kali yaitu ditepi sungai Cikadongdong  sebelah selatan jalan desa yang sekarang.
         Setelah Nisajaya menetap lama disana. Berpikirlah Beliau untuk memindahkan Orang-orang yang ada ditepi sungai Cikadongdong ke Tepi jalan yang sedang dibuat. Diajaknya Orang-orang itu bertempat tinggal disekitar Pohon Besar lagi Kramat dan dari Pohon itupula dapat memberikan Obat kepada Orang-orang yang sakit. Kepindahan terjadi 2 ( dua ) Kelompok perbedaan pendapat, satu pihak ingin menetap dan dilain pihak mau berpindah. Akan tetapi sekalipun demikian berkat Kesaktian dan Kebijaksanaan Nisajaya akhirnya mereka patuh, taat dan menurut untuk berpindah bertempat tinggal di sekitar Pohon Besar dan Kramat itu.
        Dibawah Pohon yang besar itu dibuatnyalah lapangan yang luas atau Alun – alun yang dianggapnya pada waktu itu untuk berkumpul dan disebelah selatan Pohon yang Besar itu dibuatnya pula sebuah bangunan yang dianggapnya oleh mereka pada waktu itu sebagai tempat Bermusyawarah, kemudian disebelah barat Pohon yang Besar dibuatnya pula sebuah bangunan untuk bersemedi atau beribadat.
        Setelah terasa bahwa Orang-orang itu Patuh dan Taan kepada segala perintahnya, maka dalam suatu Permusyawaratan diputuskan bahwa tempat yang mereka diami itu di sebut  “ DESA LAME “  karena mereka berlindung disekitar Pohon yang besar tadi dan ditetapkan pula bahwa sebagai Pemimpin atau Kuwu yaitu  Bapak  NISAJAYA .

           “ KUWU YANG PERTAMA “adalah Bapa NISA JAYA yang sekarang terkenal dengan sebutan BUYUT NAISA, beliau memerintah sebagai kuwu sejak tahun 1849 s/d 1850.
          Karena sesuatu, BUYUT NISA JAYA tidak lama memangku jabatan sebagai Kuwu, akan tetapi sekalipun demikian wibawanya tetap besar dan tetap pula dipatuhi oleh rakyat sekitarnya, hal ini dibuktikan dalam pergantian untuk menduduki sebagai jabatan Kuwu selanjutnya cukup dengan menunjuk dan mengangkat putranya yang bernama BUYUT GEDE, Beliau memerintah sebagai Kuwu sejak tahun 1850 s/d 1851.
Buyut Gedepun tidak lama memerintah sebagai kuwu, maka ditunjuklah kakanya Buyut Gede yang bernama BUYUT WAIRAN untuk memangku jabatan sebagai kuwu, beliau memerintah sejak tahun 1851 s/d 1852.
         Buyut Wairan Tidak lama memerintah sebagai Kuwu karena meningal dunia, maka ditunjuknya lagi sebagai gantinya seorang Cucu Buyut Gede yang bernama BUYUT DOPANG , Beliau memerintah sebagai kuwu sejak tahun 1852 s/d 1862.
 selama menjabat kuwu Beliau dapat merintis pembangunan – pembangunan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekalipun pada waktu itu caranya masih sederhana seperti pembuatan saluran-saluran air dan pohon Lame diganti oleh pohon Beringin.
                           Pengaruh Nasionalisme pada waktu itu sudah mulai ada, hal ini akibat Perang          “ DIPONEGORO “ sehingga karenanya Kanjeng Dalem R.A BAHU DENDA  yang memerintah pada tahun 1857 s/d 1863 menjadikan seorang Kuwu Baru dengan menetapkan putranya yang bernama “ SINGADIWANGSA “ sebagai kuwu, selama pemerintahan yang dijabatnya sejak tahun 1863 s/d 1902 . Singadiwangsa berhasil membuat jembatan “ Cikadongdong “.
        Kemudian Singadiwangsa meninggal dunia maka terjadilah pengangkatan kuwu dengan melalui pilihan, yang pada waktu itu Kuwu dipilih langsung oleh rakyat dengan berkelompok-kelompok , rakyat berada di belakang calon kuwu pilihannya. Maka terpilihlah putra Buyut Singadiwangsa yang bernama “ ARGANATA “ Sebagai kuwu dan beliau memerintah sejak tahun 1902 s/d 1920 dan Beliau berhasil membangun Lumbung Desa.
       Dengan sistim pilihan tersebut tadi, mengakibatkan perselisihan paham dan pendapat sehinga timbullah adanya oposisi yang dilakukan oleh kelompok yang tidak berhasil pilihannya. Maka oleh karena itulah jatuhnya pemerintahan Arganata.
       Pengetahuan dan tata laksana pemerintahan makin maju, maka untuk mengganti Arganata adalah Kanjeng Dalem  R . A . A S ASRABAHU Pada Tahun 1902 s/d 1922 , mengadakan sistim Pemilihan Kuwu itu dengan mengunaka sebuah Paku maka terpilihlah “ Bapak DURAHMAN “ sebagai Kuwu sejak tahun 1920 s/d 1926. Pemerintahan desa yang dipegang oleh Bapak Durahman berhasil mengembalikan lagi sejarah yaitu menanam Pohon Lame dan ditambah Pohon Beringin dan Pohon Karoya ditengah Alun-alun . Seperti dijaman Bapak Arganata Bapak Durahman selalu dimta-matai oleh pihak Oposisi, sedangkan Kanjeng Dalem  R . A . A  Sasrabahu  pada waktu itu sudah diganti oleh Kanjeng Dalem R . M . A . A  SURYATANUDIBRATA.  
 Oleh karena itu Bapak Durahman berhenti dari jabatan sebagai Kuwu, maka diadakan pemilihan lagi dan terpilihlah  “ Bapak JAGAKARIA “  Sebagai  Kuwu, hal inipun selama Bapak Jagakaria Menjabat sebagai Kuwu tidak lepas dari intaian kelompok Oposisi, teror pitnah pun dilakukannya, kelemahan dan kesalahan Kuwu selalu dicarinya hingga akhirnya pada tahun 1932 Bapak Jagakaria berhenti menjadi Kuwu. Selama  memerintah Beliau mengganti Tanaman Pohon Lame yang ditanam di Alun-alun oleh Pohon Beringin.
         Setelah Bapak Jagakaria berhenti maka diadakan pilihan lagi, dan terpilihlah Kuwu Baru Bernama  “ Bapak  ABBAS “ Beliau memerintah sejak tahun 1932 s.d 1939 yang pada waktu Pemerintah jajahan membuat bendungan Dam CIWARINGIN, suasana keeadaan di Desa tetap seperti yang pernah dilakukan pada masa terdahulunya, bahwa setiap orang yang menjadi Kuwu tidak lepas dari  fitnahan-fitnahan Oposisi, yang mengakibatkan Bapak ABAS ini terlibat korban fitnah dan berhentilah Bapak Abas dari jabatan Kuwunya. Maka diadakan pilihan lagi, dan terpilihlah “ Bapak ANAM “, beliau memerintah sejak tahun 1939 s.d 1945.
         Perang Dunia ke II menjalar ke India Belanda, datanglah penjajah baru Bangsa Jepang, rakyat Desa Lame pada waktu itu diwajibkan untuk melaksanakan kerja paksa dengan dalih        “ APLUS “ dalam rangka pembuatan Lapangan Udara di Buntu, yang sekarang dikenal dengan nama Lapangan Udara S. SUKANI, aplus bukan hanya ke Buntu saja akan tetapi juga ke BAYAH di daerah BANTEN.
            Walaupun Pemerintah Jajahan diganti, akan tetapi suasana Pemerintahan di desa masih terus diliputi oleh saling fitnah-memfitnah dari pihak oposisi, akhirnya pada tahun 1945      bapak  ANAM berhenti dari jabatannya, tidak lama lagi diadakan pemelihan maka terpilihlah  “ Bapak H . SIRAD ”  sebagai Kuwu , beliau menjabat sebagai Kuwu sejak tahun 1945 s.d 1962.



Dalam sejarah Kuwu di Desa Lame beliaulah seorang Kuwu yang tidak ada kaitan dengan darah BUYUT NISAJAYA. Akan tetapi sekalipun demikian Pemerintahan Desa dipegang oleh Bapak H. Sirad, terjadilah revolusi menuju Negara Indonesia Merdeka, karenanya Pemerintahan di Desa terpengaruh oleh situasi, kekacauan terjadi disana-sini . Ketika itu Di Desa Lame mmenjadi ajang arena pertempuran antara Gerilyawan dengan Belanda, TNI dengan DI/TII sehingga masyarakat Desa Lame sebagian besar mengungsi untuk menyelamatkan diri , situasi perekonomian menjadi lemah korban jiwa tidak bisa  di
hindari lagi, Penggarongan yang dilakukan oleh Gerombolan DI/TII selalu terjadi setiap malam sehingga keadaan Desa Lame pada waktu itu menjadi kacau balau.
            Selama Bapak H. Sirad menadi Kuwu dalam kesempatannya dapat pula membangun sarana kebutuhan masyarakat seperti, Membangun Bendungan Dam Jatem Di Sungai Cikadongdong, Lorong – lorong sebagai hubungan antar blok, terutama tembusan jalan Desa Nanggerang yang diberi nama Gang C. O. V dan pembuatan gang – gang lainnya.Karena darah fitnah – memfitnah sudah membudaya dipihak Oposisi yang tidak mengenal situasi dan kondisi pemerintahan, maka pada tahun 1962 Bapak H. Sirad menjadi korban fitnah pula maka berhenti dari jabatannya.
            Tidak lama kemudian dalam tahun 1962 itu juga diadakan pilihan kuwu lagi, dan terpilihlah  “ Bapak  OMO WIHATMAH  alias SARTIJAH “ Sebagai Kuwu yang mempunyai keturunan dari keluarga besar Bapak Buyut  Nisajaya . Selama Jabatannya Beliau berusaha merintis segala pembangunan yang diperlu kan, sehingga Desa Lame berubah wajah, sekalipun waktunya relatip singkat antara lain beliau meremajakan Pohon Beringin di Alun – alun, Pembuatan Sekolah Dasar  tiga  Lokal, Pemugaran Balai Desa , pelebaran Jalan – jalan dan lain sebagainya . Pada tahun 1965  terjadilah G . 30 S / PKI   maka adalah Bapak     Omo Wihatma menjadi korban fitnah pula sehingga berhentilah dari jabatannya tanpa surat keputusan. Untuk itulah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kretaker yaitu Sersan CECE al SOMA dari KODIM Majalengka beliau memerintah sejak tahun 1965 s/d 1967.
           Tanggal 17 Nopember 1967 diadakan pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah  “ Bapak  ENI  SUWARNA ”  sebagai Kuwu atau  Kepala Desa dan Kuwu inipun masih keturunan Buyut Wairan . Selama memangku jabatannya beliau terus – menerus membangun sarana Fisik  dan Non Fisik setiap tahunnya karena pada waktu itu adanya REPELITA mulai tahun 1968/1969. Pelita I dan Pelita II telah dilaksanakan dengan bukti Merehab Balai Desa, merehab Mesjid Jammi Desa , pengaspalan jalan menuju ke Desa Parakan dan yang lainnya .
            Pada Tahun 1978 tidak ketinggalan pula Desa Lame ikut dalam lomba Desa tingkat Desa Swakarya se-Kabupaten Majalengka dan menjadi juara I TK. Kabupaten. Tidak lama kemudian dari Pemerintah mulai diberlakukannya Undang-undang no. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa diantaranya bahwa masa jabatan Kepala Desa lamanya 8 tahun sejak mulai pengangkatan Kepala Desa dan Beliau berhenti dari jabatannya pada tahun 1980 .
            Masih dalam Tahun itu juga diadakan pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah “Bapak  ATENG MUKTAR “ Menjadi Kepala Desa. Selama Beliau menjabat telah berhasil melaksanakan Pembangunan diantaranya : membangun 2 Mushola, jembatan sasak Jangkung, jembatan Cidongke yang menghubungkan Blok Rabu sebelah timur dan Blok Rabu sebelah Barat. Pada tahun 1984 Beliau mendapat musibah yaitu sakit.
            Pada waktu itu Bapak R. E. DJAELANI . SH selaku Bupati Kepala Daerah TK. II Majalengka memberikan Cuti Sakit Kepada Bapak Ateng Muktar selaku Kepala Desa Lame dan mengangkat “ Bapak JALIL KOMARUDIN “ jabatan  Sekretaris Desa sebagai Pejabat Kepala Desa Lame pada tanggal 21 Maret 1985.
            Dalam waktu yang relatif singkat pada tanggal 18 Agustus 1985 mendirikan Pengajian Umum Al-Hidayah bertempat di Mesjid Jami Desa Lame, mengangkat Citra Masyarakat  Desa Lame dimata Pemerintah dengan berhasilnya Partai GOLKAR pada Pemilu 1987 mendapat kurang lebih 84 % suara pada masa Orde Baru, Listrik Masuk Desa ( LMD ), pembuatan Kuta Pembatas di Blok Selasa antara Desa Lame dengan Desa Parakan, Perehaban Balai Desa dan Pembangunan Jembatan Taledo .
            Setelah selesainya masa Pemilu 1987  Pemerintah mencabut  Pejabat Kepala Desa dan tidak lama kemudian pada tanggal  ; 10 Oktober 1988  Saudara                                  A . JALIL KOMARUDIN  berhenti dengan hormat dari jabatannya sebagai Pejabat  Kepala Desa serta diberikan Surat Keputusannya .
             Pada Tanggal 10 Oktober 1988 diadakan pemilihan Kepala Desa maka terpilihlah  “ Bapak  Rd . MAHMUD AZMI “  sebagai Kepala Desa Lame . Selama Beliau Memangku jabatann telah berhasil membangun yakni Pengaspalan jalan di gang-gang di lima blok, merehab jembatan disebelah barat Bapak Solihin, merehab jembatan di Blok Senin “ Jembatan Pak Cawis “ , Penyenderan saluran air di sawah Jati.
              Dikarenakan masa jabatan Kades lamanya 8 tahun sejak pengangkatan Kades terhalang oleh Pemilu 1997 maka Beliau berhenti dari jabatannya pada tanggal 30 Maret 1998. Pada Tanggal 17 September 1998 diadakan pemilihan Kuwu maka terpilihlah  “ Bapak .  JALIL  KOMARUDIN ” dengan mengerah kan pimpinan-pimpinan  non pormil di masyarakat untuk bekerja sama yang baik dengan pemerintah Desa dan Lembaga – lembaga Desa, maka dapat membangun dan merubah wajah Desa Lame .
             Adapun Pembangunan yang dilaksanakannya :
  • Rehab jembatan Pa Cawis di Blok Senin .
  • Rehab Balai Desa Lame .
  • Melaksanakan Pembangunan PPK selama 5 Tahun berturut-turut .
  • Memperbaiki jalan Cilimus Di Blok Senin .
  • Membangun Madrasah Diniah .
  • Pemagaran alun-alun dengan Pagar besi dan pemasangan Trotoarnya .
  • Memperbaiki bendungan di dekat rumah Bapak K. Udut Samhudi Di Blok Rabu .
  • Mendirikan TK AL-QUR’AN  LATANZA .
  • Membangun Mesjid Jammi Al-Hidayah .
  • Membangun jalan/trotoar khusus untuk anak sekolah di sawah jati .
  • Membangun Coran diatas jembatan Talang untuk Pejalan kaki di Blok Senin .
  • Pemasangan Papim blok di Alun-alun dan di halaman Mesjid .
  • Pemagaran Mesjid jami dengan pagar besi .
  • Penyenderan Lapang dan Pengurugan Lapang
  • Penyenderan jalan di blok senin cilimus .
  • Pembuatan saluran air di blok selasa .
  • Pengutaan Makam Buyut Wariem di Blok Rabu .
  • Pengecoran jalan di blok Jumat .
  • Penyenderan sawah cidawolong untuk jalan di blok sabtu .
  • Pengaspalan jalan Desa dan pembuatan saluran air menuju jalan ke Desa Mindi .
  • Desa Lame ditetapkan menjadi Desa Sadar Hukum oleh Pemerintah Pusat melalui Mentri Hukum dan Per-Undang – undangan Indonesia pada Tahun 2003 .
  • Tanggal 17 Agustus 2007 Penanaman Pohon Beringin.
  • Rehab Jalan / Raksa Desa di Blok Senin dan di Blok Selasa.
  • Membangun Jembatan didekat Mushola Bapa Jamin.
  • Membangun Senderan Jalan di Blok Sabtu depan rumah Bapa Mustika.  
      
  PRESTASI  YANG  DAPAT  DICAPAI 


1.  Tahun 2000            : Rangking ke 2 Tingkat Kabupaten di Bidang Administrasi 
                          PKK dan Kelompok Wanita Tani .

2.  Tahun  2003           : Rangking ke 3 Tingkat Kabupaten Majalengka di Bidang
  UP 2 K .

3.  Tahun  2004           : Desa Lame ditetapkan menjadi Desa Sadar Hukum dari
  Menteri Kehakiman dan HAM   R I .

4.  Tahun  2005           : TK AL-Qur’an LAATANSA Juara Nasional Lomba
  Mewarnai Gambar / kaligrafi .

5.  Tahun  2006           : Pada Bulan Maret Mesjid Jammi Al-Hidayah Lame Juara
  Harapan Tingkat Kabupaten Majalengka .


SUSUNAN  PEMERINTAH  DESA  LAME  TAHUN  2008


Kepala  Desa                           :     JALIL  KOMARUDIN
Sekretaris  Desa                      :     TEGUH  NUGRAHA
Kaur  Pemerintah                    :     SUWARSA
Kaur  Umum                           :     NONO SUPRIATNA
Kaur  Ekbang                          :     SUDIRMAN
Kaur  Keuangan                      :     DEDE MARTINDA
Kaur  Kesra                             :     DULMANAN

Ketua BPD                             :     DUDIN, S.Pd
Ketua LPM                             :     MAMAN  HERMANTO , S.Pd
Ketua DKM                            :     K . ANAS MANSUR
Ketua PKK                             :     NY . O .  ROHMAWATI
Ketua Karang Taruna              :     ALI   NATASASMITA  

               Maka sekalipun dalam tempo yang relatif singkat  pembangunan demi pembangunan bisa dilaksanakan atas bantuan masyarakat yang penuh rasa tanggung jawab. Segala pelaksanaan Pemerintahan Desa dapat dilaksanakan dengan baik, dengan semboyan  “ Ringan Sama Dijinjing Berat Sama Dipikul “ Desa dengan rakyat dan rakyat dengan Desa bekerja sama dengan baik.

        Sekian  sejarah Desa Lame dan mohon maaf apabila ada kata-kata atau kalimat yang tidak berkenan dan  Terima kasih atas segala perhatiannya .

                                                      POTO ZIARAH JAWA TENGAH


                                      















SEJARAH DESA LAME

Posted by : kikycomcell 0 Comments
►

- Copyright © kiky cell - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -