Posted by : kikycomcell Thursday, 28 January 2016



SEJARAH DESA LAME
  
………………….. ,  maka tersebutlah LAME pada kira-kira pertengahan abad ke 16 yaitu suatu daerah kediaman penduduk yang berada di tepian Sungai Ciwaringin. Kata – kata Lame ketika itu belum berarti nama suatu Desa, tetapi Lame adalah suatu daerah yang telah dipakai sebagai kediaman sekelompok Manusia  yang hidup bersama yang merupakan suatu Masyarakat yang di Pimpin oleh Seseorang yang di Tuakan. Sekalipun sudah ada Orang yang dianggap Sesepuh / di Tuakan tetapi belum bisa dikatakan sebuah Desa. Sebab selain kata “DESA” baru dijumpai pada kurang lebih Pertengahan Abad ke 19.Syarat lain untuk bisa di sebut DESA belum mencukupi sebab baru ada orang yang di Tuakan atau Sesepuh juga belum ada Pejabat dan Pembantunya seperti sekarang Adanya Perangkat Desa jadi Pemerintahannya belum ada. Oleh karena itu Lame adalah hanya merupakan Daerah Tempat Sekelompok Manusia hidup bermasyarakat.
          Mengapa tempat tadi di sebut LAME ?. Sebab di tengah-tengah Lingkungan Manusia hidup bermasyarakat tadi terdapat sebuah Pohon Besar dan dianggap Kramat dimana mereka mengadu dan memohon pada Pohon tersebut, sehingga karenannya apabila mereka ditanya diluar daerah mereka akan menjawab “ Saya Berasal Dari Daerah Lame “ Karena mereka berada di bawah Pohon Lame.
          Daerah yang di sebut “ LAME “ tadi termasuk diatas tanah kepunyaan bapak Buyut TARAJUTISNA yang ketika itu dianggap orang yang kuat dan pada wktu itu Beliau diam disebelah barat daerah Lame .
        Walaupun demikian bagi Orang-orang daerah Lame tidak menganggap bahwa Buyut Tarajutisna itu sebagai pimpinan mereka. Buktinya ketika membuat jalan antara Prapatan – Majalengka Orang-orang daerah Lame membangkang tidak mentaati terhadap perintah Buyut Tarajutisna untuk “ Jiwa atau kerja paksa “ itu. Malah mereka lebih baik berpindah tempat tinggal ke daerah pinggir sungai Cikadongdong.
         Sebagai penggantinya untuk pekerja membuat jalan tersebut, Kanjeng Dalem Majalengka yang ketika itu di jabat oleh R. T. DENDA NEGARA antara Tahun 1819 s/d 1848 meminta kepada Sultan Ciebon untuk mendatangkan Budak Belian dari daerah Jawa yang di tampung di sebelah selatan daerah Lame sehingga akhirnya daerah daerah itu disebut “PAMIJAHAN” yang sekarang berubah menjadi PAMIJEN. Akibat kerja paksa yang berat banyak Orang yang sakit dan mati dan dimakamkan di Pamijahan sampai berderet penuh dengan ciri-ciri ( Maesan ) yang sampai sekarang biasa disebut Makam Budak, yang letaknya atau kuburannya didepan bangunan Buyut WARIYEM BAHUDENDA.
         Untuk mencegah banyaknya kematian para pekerja , dicarinya Obat yang ada disekitar pembuatan jalan tersebut maka terdapatlah obat yang mujarab yaitu dibuatnya ramuan Minuman dari  Kulit Pohon Lame yang terdapat dipinggir jalan yang sedang dibuat itu.
         Sebagaimana tadi disebutkan bahwa Orang-orang daerah lame itu membangkang tidak patuh terhdap Buyut Tarajutisna maka akhirnya daerah itu tidak ada sesepuh atau pimpinan sehingga keadaan menjadi kacau. Tidak lama kemudian Kanjeng Dalem  .     A. A. KARTADININGRAT  yang pada waktu itu memangku Jabatan di Tahun 1848 s/d 1857 mendapat sorotan dari atasannya,
kemudian memohonlah Kepada Sultan Cirebon supaya diberi Seorang Pemimpin di daerah tersebut yang mampu mengatasi kekacauan tadi.
        Sultan Cirebon mengirim seorang Prajurit Pilihan, Prajurit Pinilih Kuat dan Sakti Mandraguna juga bijaksana yaitu bernama  “ NISAJAYA “ yang berasal dari Waru Gede Cirebon. Karena kesaktian dan berbudi luhur maka kedatangannya disambut dengan baik dan penuh harapan serta kepercayaan. Beliau di tempatkan yang pertama kali yaitu ditepi sungai Cikadongdong  sebelah selatan jalan desa yang sekarang.
         Setelah Nisajaya menetap lama disana. Berpikirlah Beliau untuk memindahkan Orang-orang yang ada ditepi sungai Cikadongdong ke Tepi jalan yang sedang dibuat. Diajaknya Orang-orang itu bertempat tinggal disekitar Pohon Besar lagi Kramat dan dari Pohon itupula dapat memberikan Obat kepada Orang-orang yang sakit. Kepindahan terjadi 2 ( dua ) Kelompok perbedaan pendapat, satu pihak ingin menetap dan dilain pihak mau berpindah. Akan tetapi sekalipun demikian berkat Kesaktian dan Kebijaksanaan Nisajaya akhirnya mereka patuh, taat dan menurut untuk berpindah bertempat tinggal di sekitar Pohon Besar dan Kramat itu.
        Dibawah Pohon yang besar itu dibuatnyalah lapangan yang luas atau Alun – alun yang dianggapnya pada waktu itu untuk berkumpul dan disebelah selatan Pohon yang Besar itu dibuatnya pula sebuah bangunan yang dianggapnya oleh mereka pada waktu itu sebagai tempat Bermusyawarah, kemudian disebelah barat Pohon yang Besar dibuatnya pula sebuah bangunan untuk bersemedi atau beribadat.
        Setelah terasa bahwa Orang-orang itu Patuh dan Taan kepada segala perintahnya, maka dalam suatu Permusyawaratan diputuskan bahwa tempat yang mereka diami itu di sebut  “ DESA LAME “  karena mereka berlindung disekitar Pohon yang besar tadi dan ditetapkan pula bahwa sebagai Pemimpin atau Kuwu yaitu  Bapak  NISAJAYA .

           “ KUWU YANG PERTAMA “adalah Bapa NISA JAYA yang sekarang terkenal dengan sebutan BUYUT NAISA, beliau memerintah sebagai kuwu sejak tahun 1849 s/d 1850.
          Karena sesuatu, BUYUT NISA JAYA tidak lama memangku jabatan sebagai Kuwu, akan tetapi sekalipun demikian wibawanya tetap besar dan tetap pula dipatuhi oleh rakyat sekitarnya, hal ini dibuktikan dalam pergantian untuk menduduki sebagai jabatan Kuwu selanjutnya cukup dengan menunjuk dan mengangkat putranya yang bernama BUYUT GEDE, Beliau memerintah sebagai Kuwu sejak tahun 1850 s/d 1851.
Buyut Gedepun tidak lama memerintah sebagai kuwu, maka ditunjuklah kakanya Buyut Gede yang bernama BUYUT WAIRAN untuk memangku jabatan sebagai kuwu, beliau memerintah sejak tahun 1851 s/d 1852.
         Buyut Wairan Tidak lama memerintah sebagai Kuwu karena meningal dunia, maka ditunjuknya lagi sebagai gantinya seorang Cucu Buyut Gede yang bernama BUYUT DOPANG , Beliau memerintah sebagai kuwu sejak tahun 1852 s/d 1862.
 selama menjabat kuwu Beliau dapat merintis pembangunan – pembangunan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekalipun pada waktu itu caranya masih sederhana seperti pembuatan saluran-saluran air dan pohon Lame diganti oleh pohon Beringin.
                           Pengaruh Nasionalisme pada waktu itu sudah mulai ada, hal ini akibat Perang          “ DIPONEGORO “ sehingga karenanya Kanjeng Dalem R.A BAHU DENDA  yang memerintah pada tahun 1857 s/d 1863 menjadikan seorang Kuwu Baru dengan menetapkan putranya yang bernama “ SINGADIWANGSA “ sebagai kuwu, selama pemerintahan yang dijabatnya sejak tahun 1863 s/d 1902 . Singadiwangsa berhasil membuat jembatan “ Cikadongdong “.
        Kemudian Singadiwangsa meninggal dunia maka terjadilah pengangkatan kuwu dengan melalui pilihan, yang pada waktu itu Kuwu dipilih langsung oleh rakyat dengan berkelompok-kelompok , rakyat berada di belakang calon kuwu pilihannya. Maka terpilihlah putra Buyut Singadiwangsa yang bernama “ ARGANATA “ Sebagai kuwu dan beliau memerintah sejak tahun 1902 s/d 1920 dan Beliau berhasil membangun Lumbung Desa.
       Dengan sistim pilihan tersebut tadi, mengakibatkan perselisihan paham dan pendapat sehinga timbullah adanya oposisi yang dilakukan oleh kelompok yang tidak berhasil pilihannya. Maka oleh karena itulah jatuhnya pemerintahan Arganata.
       Pengetahuan dan tata laksana pemerintahan makin maju, maka untuk mengganti Arganata adalah Kanjeng Dalem  R . A . A S ASRABAHU Pada Tahun 1902 s/d 1922 , mengadakan sistim Pemilihan Kuwu itu dengan mengunaka sebuah Paku maka terpilihlah “ Bapak DURAHMAN “ sebagai Kuwu sejak tahun 1920 s/d 1926. Pemerintahan desa yang dipegang oleh Bapak Durahman berhasil mengembalikan lagi sejarah yaitu menanam Pohon Lame dan ditambah Pohon Beringin dan Pohon Karoya ditengah Alun-alun . Seperti dijaman Bapak Arganata Bapak Durahman selalu dimta-matai oleh pihak Oposisi, sedangkan Kanjeng Dalem  R . A . A  Sasrabahu  pada waktu itu sudah diganti oleh Kanjeng Dalem R . M . A . A  SURYATANUDIBRATA.  
 Oleh karena itu Bapak Durahman berhenti dari jabatan sebagai Kuwu, maka diadakan pemilihan lagi dan terpilihlah  “ Bapak JAGAKARIA “  Sebagai  Kuwu, hal inipun selama Bapak Jagakaria Menjabat sebagai Kuwu tidak lepas dari intaian kelompok Oposisi, teror pitnah pun dilakukannya, kelemahan dan kesalahan Kuwu selalu dicarinya hingga akhirnya pada tahun 1932 Bapak Jagakaria berhenti menjadi Kuwu. Selama  memerintah Beliau mengganti Tanaman Pohon Lame yang ditanam di Alun-alun oleh Pohon Beringin.
         Setelah Bapak Jagakaria berhenti maka diadakan pilihan lagi, dan terpilihlah Kuwu Baru Bernama  “ Bapak  ABBAS “ Beliau memerintah sejak tahun 1932 s.d 1939 yang pada waktu Pemerintah jajahan membuat bendungan Dam CIWARINGIN, suasana keeadaan di Desa tetap seperti yang pernah dilakukan pada masa terdahulunya, bahwa setiap orang yang menjadi Kuwu tidak lepas dari  fitnahan-fitnahan Oposisi, yang mengakibatkan Bapak ABAS ini terlibat korban fitnah dan berhentilah Bapak Abas dari jabatan Kuwunya. Maka diadakan pilihan lagi, dan terpilihlah “ Bapak ANAM “, beliau memerintah sejak tahun 1939 s.d 1945.
         Perang Dunia ke II menjalar ke India Belanda, datanglah penjajah baru Bangsa Jepang, rakyat Desa Lame pada waktu itu diwajibkan untuk melaksanakan kerja paksa dengan dalih        “ APLUS “ dalam rangka pembuatan Lapangan Udara di Buntu, yang sekarang dikenal dengan nama Lapangan Udara S. SUKANI, aplus bukan hanya ke Buntu saja akan tetapi juga ke BAYAH di daerah BANTEN.
            Walaupun Pemerintah Jajahan diganti, akan tetapi suasana Pemerintahan di desa masih terus diliputi oleh saling fitnah-memfitnah dari pihak oposisi, akhirnya pada tahun 1945      bapak  ANAM berhenti dari jabatannya, tidak lama lagi diadakan pemelihan maka terpilihlah  “ Bapak H . SIRAD ”  sebagai Kuwu , beliau menjabat sebagai Kuwu sejak tahun 1945 s.d 1962.



Dalam sejarah Kuwu di Desa Lame beliaulah seorang Kuwu yang tidak ada kaitan dengan darah BUYUT NISAJAYA. Akan tetapi sekalipun demikian Pemerintahan Desa dipegang oleh Bapak H. Sirad, terjadilah revolusi menuju Negara Indonesia Merdeka, karenanya Pemerintahan di Desa terpengaruh oleh situasi, kekacauan terjadi disana-sini . Ketika itu Di Desa Lame mmenjadi ajang arena pertempuran antara Gerilyawan dengan Belanda, TNI dengan DI/TII sehingga masyarakat Desa Lame sebagian besar mengungsi untuk menyelamatkan diri , situasi perekonomian menjadi lemah korban jiwa tidak bisa  di
hindari lagi, Penggarongan yang dilakukan oleh Gerombolan DI/TII selalu terjadi setiap malam sehingga keadaan Desa Lame pada waktu itu menjadi kacau balau.
            Selama Bapak H. Sirad menadi Kuwu dalam kesempatannya dapat pula membangun sarana kebutuhan masyarakat seperti, Membangun Bendungan Dam Jatem Di Sungai Cikadongdong, Lorong – lorong sebagai hubungan antar blok, terutama tembusan jalan Desa Nanggerang yang diberi nama Gang C. O. V dan pembuatan gang – gang lainnya.Karena darah fitnah – memfitnah sudah membudaya dipihak Oposisi yang tidak mengenal situasi dan kondisi pemerintahan, maka pada tahun 1962 Bapak H. Sirad menjadi korban fitnah pula maka berhenti dari jabatannya.
            Tidak lama kemudian dalam tahun 1962 itu juga diadakan pilihan kuwu lagi, dan terpilihlah  “ Bapak  OMO WIHATMAH  alias SARTIJAH “ Sebagai Kuwu yang mempunyai keturunan dari keluarga besar Bapak Buyut  Nisajaya . Selama Jabatannya Beliau berusaha merintis segala pembangunan yang diperlu kan, sehingga Desa Lame berubah wajah, sekalipun waktunya relatip singkat antara lain beliau meremajakan Pohon Beringin di Alun – alun, Pembuatan Sekolah Dasar  tiga  Lokal, Pemugaran Balai Desa , pelebaran Jalan – jalan dan lain sebagainya . Pada tahun 1965  terjadilah G . 30 S / PKI   maka adalah Bapak     Omo Wihatma menjadi korban fitnah pula sehingga berhentilah dari jabatannya tanpa surat keputusan. Untuk itulah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kretaker yaitu Sersan CECE al SOMA dari KODIM Majalengka beliau memerintah sejak tahun 1965 s/d 1967.
           Tanggal 17 Nopember 1967 diadakan pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah  “ Bapak  ENI  SUWARNA ”  sebagai Kuwu atau  Kepala Desa dan Kuwu inipun masih keturunan Buyut Wairan . Selama memangku jabatannya beliau terus – menerus membangun sarana Fisik  dan Non Fisik setiap tahunnya karena pada waktu itu adanya REPELITA mulai tahun 1968/1969. Pelita I dan Pelita II telah dilaksanakan dengan bukti Merehab Balai Desa, merehab Mesjid Jammi Desa , pengaspalan jalan menuju ke Desa Parakan dan yang lainnya .
            Pada Tahun 1978 tidak ketinggalan pula Desa Lame ikut dalam lomba Desa tingkat Desa Swakarya se-Kabupaten Majalengka dan menjadi juara I TK. Kabupaten. Tidak lama kemudian dari Pemerintah mulai diberlakukannya Undang-undang no. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa diantaranya bahwa masa jabatan Kepala Desa lamanya 8 tahun sejak mulai pengangkatan Kepala Desa dan Beliau berhenti dari jabatannya pada tahun 1980 .
            Masih dalam Tahun itu juga diadakan pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah “Bapak  ATENG MUKTAR “ Menjadi Kepala Desa. Selama Beliau menjabat telah berhasil melaksanakan Pembangunan diantaranya : membangun 2 Mushola, jembatan sasak Jangkung, jembatan Cidongke yang menghubungkan Blok Rabu sebelah timur dan Blok Rabu sebelah Barat. Pada tahun 1984 Beliau mendapat musibah yaitu sakit.
            Pada waktu itu Bapak R. E. DJAELANI . SH selaku Bupati Kepala Daerah TK. II Majalengka memberikan Cuti Sakit Kepada Bapak Ateng Muktar selaku Kepala Desa Lame dan mengangkat “ Bapak JALIL KOMARUDIN “ jabatan  Sekretaris Desa sebagai Pejabat Kepala Desa Lame pada tanggal 21 Maret 1985.
            Dalam waktu yang relatif singkat pada tanggal 18 Agustus 1985 mendirikan Pengajian Umum Al-Hidayah bertempat di Mesjid Jami Desa Lame, mengangkat Citra Masyarakat  Desa Lame dimata Pemerintah dengan berhasilnya Partai GOLKAR pada Pemilu 1987 mendapat kurang lebih 84 % suara pada masa Orde Baru, Listrik Masuk Desa ( LMD ), pembuatan Kuta Pembatas di Blok Selasa antara Desa Lame dengan Desa Parakan, Perehaban Balai Desa dan Pembangunan Jembatan Taledo .
            Setelah selesainya masa Pemilu 1987  Pemerintah mencabut  Pejabat Kepala Desa dan tidak lama kemudian pada tanggal  ; 10 Oktober 1988  Saudara                                  A . JALIL KOMARUDIN  berhenti dengan hormat dari jabatannya sebagai Pejabat  Kepala Desa serta diberikan Surat Keputusannya .
             Pada Tanggal 10 Oktober 1988 diadakan pemilihan Kepala Desa maka terpilihlah  “ Bapak  Rd . MAHMUD AZMI “  sebagai Kepala Desa Lame . Selama Beliau Memangku jabatann telah berhasil membangun yakni Pengaspalan jalan di gang-gang di lima blok, merehab jembatan disebelah barat Bapak Solihin, merehab jembatan di Blok Senin “ Jembatan Pak Cawis “ , Penyenderan saluran air di sawah Jati.
              Dikarenakan masa jabatan Kades lamanya 8 tahun sejak pengangkatan Kades terhalang oleh Pemilu 1997 maka Beliau berhenti dari jabatannya pada tanggal 30 Maret 1998. Pada Tanggal 17 September 1998 diadakan pemilihan Kuwu maka terpilihlah  “ Bapak .  JALIL  KOMARUDIN ” dengan mengerah kan pimpinan-pimpinan  non pormil di masyarakat untuk bekerja sama yang baik dengan pemerintah Desa dan Lembaga – lembaga Desa, maka dapat membangun dan merubah wajah Desa Lame .
             Adapun Pembangunan yang dilaksanakannya :
  • Rehab jembatan Pa Cawis di Blok Senin .
  • Rehab Balai Desa Lame .
  • Melaksanakan Pembangunan PPK selama 5 Tahun berturut-turut .
  • Memperbaiki jalan Cilimus Di Blok Senin .
  • Membangun Madrasah Diniah .
  • Pemagaran alun-alun dengan Pagar besi dan pemasangan Trotoarnya .
  • Memperbaiki bendungan di dekat rumah Bapak K. Udut Samhudi Di Blok Rabu .
  • Mendirikan TK AL-QUR’AN  LATANZA .
  • Membangun Mesjid Jammi Al-Hidayah .
  • Membangun jalan/trotoar khusus untuk anak sekolah di sawah jati .
  • Membangun Coran diatas jembatan Talang untuk Pejalan kaki di Blok Senin .
  • Pemasangan Papim blok di Alun-alun dan di halaman Mesjid .
  • Pemagaran Mesjid jami dengan pagar besi .
  • Penyenderan Lapang dan Pengurugan Lapang
  • Penyenderan jalan di blok senin cilimus .
  • Pembuatan saluran air di blok selasa .
  • Pengutaan Makam Buyut Wariem di Blok Rabu .
  • Pengecoran jalan di blok Jumat .
  • Penyenderan sawah cidawolong untuk jalan di blok sabtu .
  • Pengaspalan jalan Desa dan pembuatan saluran air menuju jalan ke Desa Mindi .
  • Desa Lame ditetapkan menjadi Desa Sadar Hukum oleh Pemerintah Pusat melalui Mentri Hukum dan Per-Undang – undangan Indonesia pada Tahun 2003 .
  • Tanggal 17 Agustus 2007 Penanaman Pohon Beringin.
  • Rehab Jalan / Raksa Desa di Blok Senin dan di Blok Selasa.
  • Membangun Jembatan didekat Mushola Bapa Jamin.
  • Membangun Senderan Jalan di Blok Sabtu depan rumah Bapa Mustika.  
      
  PRESTASI  YANG  DAPAT  DICAPAI 


1.  Tahun 2000            : Rangking ke 2 Tingkat Kabupaten di Bidang Administrasi 
                          PKK dan Kelompok Wanita Tani .

2.  Tahun  2003           : Rangking ke 3 Tingkat Kabupaten Majalengka di Bidang
  UP 2 K .

3.  Tahun  2004           : Desa Lame ditetapkan menjadi Desa Sadar Hukum dari
  Menteri Kehakiman dan HAM   R I .

4.  Tahun  2005           : TK AL-Qur’an LAATANSA Juara Nasional Lomba
  Mewarnai Gambar / kaligrafi .

5.  Tahun  2006           : Pada Bulan Maret Mesjid Jammi Al-Hidayah Lame Juara
  Harapan Tingkat Kabupaten Majalengka .


SUSUNAN  PEMERINTAH  DESA  LAME  TAHUN  2008


Kepala  Desa                           :     JALIL  KOMARUDIN
Sekretaris  Desa                      :     TEGUH  NUGRAHA
Kaur  Pemerintah                    :     SUWARSA
Kaur  Umum                           :     NONO SUPRIATNA
Kaur  Ekbang                          :     SUDIRMAN
Kaur  Keuangan                      :     DEDE MARTINDA
Kaur  Kesra                             :     DULMANAN

Ketua BPD                             :     DUDIN, S.Pd
Ketua LPM                             :     MAMAN  HERMANTO , S.Pd
Ketua DKM                            :     K . ANAS MANSUR
Ketua PKK                             :     NY . O .  ROHMAWATI
Ketua Karang Taruna              :     ALI   NATASASMITA  

               Maka sekalipun dalam tempo yang relatif singkat  pembangunan demi pembangunan bisa dilaksanakan atas bantuan masyarakat yang penuh rasa tanggung jawab. Segala pelaksanaan Pemerintahan Desa dapat dilaksanakan dengan baik, dengan semboyan  “ Ringan Sama Dijinjing Berat Sama Dipikul “ Desa dengan rakyat dan rakyat dengan Desa bekerja sama dengan baik.

        Sekian  sejarah Desa Lame dan mohon maaf apabila ada kata-kata atau kalimat yang tidak berkenan dan  Terima kasih atas segala perhatiannya .

                                                      POTO ZIARAH JAWA TENGAH


                                      















Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

►

- Copyright © kiky cell - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -